Nilai Ekspor dan Setoran Negara dari Nikel Melonjak, Ekonom Sebut Struktur Ekonomi RI Mulai Bergeser
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan kebijakan hilirisasi nikel mulai membawa perubahan pada struktur ekonomi Indonesia, tercermin dari naiknya nilai tambah komoditas, penerimaan negara, dan berkembangnya industri pengolahan di dalam negeri.
Ia memaparkan, pada semester I 2026 nilai ekspor nikel dan produk turunannya melonjak 69,3 persen menjadi sekitar 6,54 miliar dolar AS atau setara Rp117,05 triliun dibanding periode sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari komoditas nikel mencapai Rp21 triliun hingga akhir Agustus 2026, naik signifikan dari Rp10 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa sebagian besar proses pengolahan nikel di dalam negeri masih menghasilkan produk antara seperti nickel pig iron (NPI) dan feronikel untuk kebutuhan industri baja nirkarat. Karena itu, ia menilai rantai produksi perlu diperpanjang hingga ke tahap prekursor, katoda, sel baterai, dan manufaktur akhir agar manfaat ekonominya semakin besar dan melibatkan lebih banyak pemasok dalam negeri.
Salah satu contoh pengembangan hilirisasi ditunjukkan oleh PT Vale Indonesia Tbk melalui proyek berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako, yang mengolah bijih limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai bahan antara baterai kendaraan listrik. Total kapasitas produksi gabungan ketiga proyek itu sekitar 240 ribu ton MHP per tahun.
Di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, proyek HPAL turut dikembangkan PT Kolaka Nickel Indonesia bersama mitra asing dengan nilai investasi sekitar 4,5 miliar dolar AS atau Rp80,54 triliun, berkapasitas sekitar 120 ribu ton nikel dan 15 ribu ton kobalt per tahun.
Secara keseluruhan, nilai ekspor industri pengolahan nasional tercatat 159,55 miliar dolar AS sepanjang Januari-Agustus 2026, tumbuh 7,87 persen secara tahunan. Yusuf menegaskan hilirisasi berpotensi menjadi fondasi industrialisasi nasional apabila rantai produksi terus diperpanjang dan kontribusi ekonomi daerah operasional semakin diperluas.
Sumber: ANTARA News