Rumput Laut Menjadi Solusi Penting Pemenuhan Kebutuhan Pangan Nasional
Menteri Kelautan dan Perikanan menyatakan bahwa rumput laut memiliki peranan penting dalam strategi pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Sumber pangan dari laut (blue food) ini dapat dibudidayakan tanpa menambah tekanan pada lahan darat yang semakin terbatas dan langka.
Tekanan terhadap sistem pangan berbasis darat semakin meningkat seiring dengan proyeksi pertumbuhan populasi global. Populasi dunia diperkirakan akan meningkat dari 8,23 miliar jiwa pada 2025 menjadi 9,66 miliar jiwa pada 2050, yang mengakibatkan peningkatan kebutuhan pangan global sebesar 50-60 persen. Permintaan terhadap protein dari daging dan ikan diproyeksikan meningkat 67 persen, sementara kebutuhan ikan segar mencapai 179 juta ton atau naik 66 persen dari kondisi saat ini.
Untuk Indonesia, populasi diperkirakan meningkat dari 285,7 juta jiwa pada 2025 menjadi 320,7 juta jiwa pada 2050. Peningkatan ini memerlukan penyediaan protein sebanyak 7,62 juta ton per tahun, atau setara dengan 35 juta ton ikan segar. Pada waktu yang sama, sistem pertanian berbasis lahan menghadapi tantangan serius dengan laju konversi sawah lebih dari 100 ribu hektare per tahun, sehingga hanya akan tersisa 5,1 juta hektare lahan sawah pada 2045.
Dalam konteks ini, rumput laut menawarkan alternatif yang menjanjikan. Produksi rumput laut pada 2025 mencapai 11,6 juta ton, meningkat 18,27 persen dengan rata-rata produksi dalam periode 2020-2025 sebesar 9,86 juta ton per tahun. Ekspor rumput laut Indonesia pada 2025 mencapai 242 ribu ton senilai 315 juta dolar Amerika, dengan China menjadi salah satu pasar utama yang menyerap hampir 70 persen berupa rumput laut kering.
Industri rumput laut melibatkan lebih dari 200 ribu petani budidaya dan menunjang kehidupan lebih dari satu juta penduduk Indonesia. Selain kontribusi ekonomi, budidaya rumput laut juga memberikan manfaat lingkungan melalui penyerapan karbon dan nutrien serta perbaikan kualitas air.
Walaupun Indonesia memiliki 1.006 spesies rumput laut, baru enam spesies yang telah dibudidayakan oleh masyarakat secara komersial. Produksi didominasi oleh tiga jenis utama: kappaphycus (penghasil karagenan) 62,58 persen, eucheuma denticulatum 20,78 persen, dan gracilaria (penghasil agar-agar) 16,62 persen. Indonesia dinyatakan menempati posisi sebagai produsen rumput laut terbesar kedua di dunia.
Pemerintah telah menyiapkan lima pilar rencana aksi terintegrasi untuk pengembangan rumput laut mencakup peningkatan kualitas produksi, pengembangan industri hilir dan nilai tambah, pengembangan inovasi dan teknologi, peningkatan akses pasar dan ekspor, serta penguatan dukungan pembiayaan dan ekosistem industri.
Sumber: ANTARA News