Bank Indonesia Pertahankan Stabilitas Rupiah Hadapi Volatilitas Global
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai mekanisme intervensi pasar di tengah tekanan volatilitas ekonomi global yang tinggi. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa institusi telah menerapkan berbagai instrumen kebijakan termasuk intervensi spot, non-deliverable forward (NDF), dan insentif pelindung nilai yang telah diterapkan sejak Juni tahun lalu.
Upaya-upaya tersebut telah menunjukkan hasil positif dengan berhasil menarik masuk aliran dana asing senilai 8 sampai 9 miliar dolar Amerika dalam bentuk swap dan fasilitas lindung nilai terhadap rupiah. Pemerintah telah meminta Bank Indonesia untuk terus mengupayakan dan mengevaluasi efektivitas dari setiap instrumen kebijakan stabilisasi yang tersedia untuk mengamankan kestabilan perekonomian domestik.
Selain fokus pada nilai tukar rupiah, Bank Indonesia juga memberikan prioritas pada pengendalian inflasi sebagai cerminan kesehatan perekonomian nasional. Tingkat inflasi inti pada September tetap terkontrol dengan baik berada di level 2,8 persen. Namun, inflasi kelompok pangan bergejolak masih menjadi perhatian khusus dengan level mencapai 5 persen, mendorong koordinasi lebih erat dengan Kementerian Pertanian untuk mengembalikan inflasi pangan ke target 2,5 persen plus minus 1 persen.
Tantangan eksternal terus menjadi fokus pengawasan, khususnya tingginya volatilitas pasar global akibat kebijakan suku bunga tinggi yang ditahan lebih lama oleh negara-negara maju. Tingkat inflasi di negara-negara tersebut masih jauh berada di atas target sasaran mereka. Meskipun kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan Oktober diperkirakan lebih rendah, situasi ini tetap menjadi salah satu tantangan utama yang terus dipantau untuk menjaga ketahanan rupiah ke depan.
Sumber: ANTARA News