Indonesia Persiapkan Teknologi Kriptografi Kuantum untuk Amankan Transaksi Digital
Pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan infrastruktur keamanan siber berbasis teknologi kriptografi tahan kuantum untuk mengamankan ekosistem ekonomi digital yang terus berkembang dengan pertumbuhan pesat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi risiko Harvest Now Decrypt Later, yakni skenario di mana pihak-pihak tidak bertanggung jawab melakukan pencurian data terenkripsi saat ini dengan rencana untuk membukanya di masa depan menggunakan teknologi komputer kuantum yang jauh lebih canggih.
Inisiatif keamanan siber ini diterapkan melalui penerapan Post-Quantum Cryptography dan pembentukan Gugus Tugas Nasional Penyiapan Migrasi Kriptografi Tahan Kuantum oleh Badan Siber dan Sandi Negara. Kriptografi tahan kuantum dirancang khusus untuk menghadapi potensi kemampuan komputasi masif dari teknologi kuantum dalam memecahkan sistem enkripsi yang saat ini digunakan untuk melindungi data sensitif.
Pertumbuhan transaksi digital di Indonesia menunjukkan momentum yang sangat tinggi dan mengesankan. Bank Indonesia mencatat 12,99 miliar transaksi pembayaran digital pada kuartal ketiga tahun 2025, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 38,08 persen. Nilai transaksi bruto ekonomi digital Indonesia hampir mencapai 100 miliar dolar Amerika pada tahun 2025, tumbuh 14 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pemerintah menempatkan ekonomi digital sebagai salah satu pilar utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen pada tahun 2027.
Infrastruktur pusat data menjadi fondasi penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital ini. Kapasitas pusat data yang sedang beroperasi mencapai 600 sampai 700 megawatt dengan proyek-proyek pengembangan dalam tahap konstruksi mencapai 1,3 gigawatt dengan estimasi nilai investasi sebesar 15 sampai 20 miliar dolar Amerika. Sektor perdagangan elektronik juga menunjukkan prospek cerah dengan nilai transaksi diproyeksikan tumbuh lebih dari 14 persen menjadi 71 miliar dolar Amerika, menjadikan Indonesia sebagai pasar e-commerce terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Sumber: ANTARA News